Saya bisa saja jadi seniman
Saya menyeringai, orang heran
Saya manyun, orang kepingkel-pingkel
Punya topeng jago akting
Ya ampun, apa ya mereka heran dengan style saya?
Rambut gimbal menjuntai
Tapi saya bukan anak bajang
Bukan anak reggae
Bukan pula titipan Nyi Ratu atau titisan Mbah Kolodite
Rombeng-rombeng itu asyik kan?
Tuhan saja maha asyik
Saya ini citraan-Nya
Saya duduk di dipan
Memilin rambut sambil cari serangga penghisap darah
Weladalah
Saya malah diusir sama yang punya dipan
Saya itu hidup menggelandang
Anak emperan
Suka cengar-cengir santai
Bingung setengah buntu saudara. Beberapa orang meneriaki saya 'orang gila'
Cari Blog Ini
Sabtu, 29 Maret 2014
Rabu, 12 Februari 2014
Happiness Comes True!
*asap tebel* *keluar dari sela-sela asap*
Hi pals! Gue lagi seneng banget nih. Mulai darimana ya ceritanya *uhuk*. Mmm, jadi gini...
Pada tanggal 30 Agustus 2014 kemarin gue dapet sms dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) yang isinya ngasih tahu kalau gue keterima di sana dengan program studi Ilmu Komunikasi. Gak kebayang rasanya men! Kayak terbang bareng flappy bird, kejedug-jedug-pun kayak gak berasa *lebay*. Haha pokoknya gitu deh cuy. Seneng tingkat internasional bisa kali.
Intinya thanks banget buat SMK gue yang udah jadi batu loncatan buat gue untuk mewujudkan keinginan gue. Ternyata bener apa kata salah satu guru gue yang bilang "Belajar untuk mencintai apa yang tidak kita cintai". Gue mulai merasa kalau kata-kata itu bermanfaat dan nyata di dunia ini. Karena apa? Karena di dunia ini pasti ada yang namanya keinginan kita tertunda lah atau bahkan gak terkabul. Kalau kita selalu pengen keinginan kita dikabulkan oleh Tuhan, itu artinya kita egois. Kita gak mikir ke depannya bakal gimana. Gue yakin Tuhan itu lebih segala-galanya dari kita. Dia tahu mana yang baik dan enggak bagi umat-Nya. Dia tahu apa yang harus didahulukan. Tuhan itu ibaratnya kayak skala prioritas kita deh. Me-manage kelakuan dan hasrat kita.Ngapa gue jadi mendadak religius?
Pada akhirnya gue sadar bahwa gak setiap keinginan kita, orang tua bisa kabulkan. Misalnya lo pengen sekolah di SMA yang bonafit, canggih, dan segala macam fasilitasnya yang we-o-we. Tapi pada kenyataannya, ternyata orang tua lo gak cukup dana buat nyekolahin lo di sekolah itu. Lo bisa apa? Gak mau sekolah gara-gara kegedean gengsi atau terima buat sekolah di sekolahan yang seadanya? Di sini nih awal mulanya. Gue berusaha sabar buat terima kenyataan untuk sekolah di SMK piulihan nyokap gue. Biarpun gue gak suka.
Tiga tahun gue sekolah di sana. Gue udah cukup sabar dan "nyobo nerimo". Tuhan minta gue buat sabar. Beberapa hari yang lalu kakak gue nyadarin tentang suatu kutipan dari film Jokowi, "Seburuk apapun sekolahmu, asal kamu rajin belajar kamu akan tetap pintar". Hati gue bener-bener terbelalak banget ini men!
Pada akhirnya gue bisa keterima kuliah di UAJY dengan bantuan beasiswa. Puji Tuhan! Halelujah! Ternyata anak SMK bisa! *Itu mah semboyannya* :D Gak apa-apa deh pengorbanan rasa sabar ini akhirnya Tuhan balas dengan sesuatu yang indah. Sekarang kita harus lebih dewasa buat menyikapi hidup. Gak semua yang kita inginkan, bisa orang tua kita wujudkan. "Dadi wong ojo sak jet sak nyet". Orang tua gue udah beracap kali bilang kayak gitu ke gue. Sampe bosen. Tapi emang hal itu harus gue resapkan dalam hati, kalu memang gue mau bertahan dan maju di dunia yang kapitalis ini.
Sekian. Semoga bermanfaat buat kalian.
Hi pals! Gue lagi seneng banget nih. Mulai darimana ya ceritanya *uhuk*. Mmm, jadi gini...
Pada tanggal 30 Agustus 2014 kemarin gue dapet sms dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) yang isinya ngasih tahu kalau gue keterima di sana dengan program studi Ilmu Komunikasi. Gak kebayang rasanya men! Kayak terbang bareng flappy bird, kejedug-jedug-pun kayak gak berasa *lebay*. Haha pokoknya gitu deh cuy. Seneng tingkat internasional bisa kali.
Intinya thanks banget buat SMK gue yang udah jadi batu loncatan buat gue untuk mewujudkan keinginan gue. Ternyata bener apa kata salah satu guru gue yang bilang "Belajar untuk mencintai apa yang tidak kita cintai". Gue mulai merasa kalau kata-kata itu bermanfaat dan nyata di dunia ini. Karena apa? Karena di dunia ini pasti ada yang namanya keinginan kita tertunda lah atau bahkan gak terkabul. Kalau kita selalu pengen keinginan kita dikabulkan oleh Tuhan, itu artinya kita egois. Kita gak mikir ke depannya bakal gimana. Gue yakin Tuhan itu lebih segala-galanya dari kita. Dia tahu mana yang baik dan enggak bagi umat-Nya. Dia tahu apa yang harus didahulukan. Tuhan itu ibaratnya kayak skala prioritas kita deh. Me-manage kelakuan dan hasrat kita.
Pada akhirnya gue sadar bahwa gak setiap keinginan kita, orang tua bisa kabulkan. Misalnya lo pengen sekolah di SMA yang bonafit, canggih, dan segala macam fasilitasnya yang we-o-we. Tapi pada kenyataannya, ternyata orang tua lo gak cukup dana buat nyekolahin lo di sekolah itu. Lo bisa apa? Gak mau sekolah gara-gara kegedean gengsi atau terima buat sekolah di sekolahan yang seadanya? Di sini nih awal mulanya. Gue berusaha sabar buat terima kenyataan untuk sekolah di SMK piulihan nyokap gue. Biarpun gue gak suka.
Tiga tahun gue sekolah di sana. Gue udah cukup sabar dan "nyobo nerimo". Tuhan minta gue buat sabar. Beberapa hari yang lalu kakak gue nyadarin tentang suatu kutipan dari film Jokowi, "Seburuk apapun sekolahmu, asal kamu rajin belajar kamu akan tetap pintar". Hati gue bener-bener terbelalak banget ini men!
Pada akhirnya gue bisa keterima kuliah di UAJY dengan bantuan beasiswa. Puji Tuhan! Halelujah! Ternyata anak SMK bisa! *Itu mah semboyannya* :D Gak apa-apa deh pengorbanan rasa sabar ini akhirnya Tuhan balas dengan sesuatu yang indah. Sekarang kita harus lebih dewasa buat menyikapi hidup. Gak semua yang kita inginkan, bisa orang tua kita wujudkan. "Dadi wong ojo sak jet sak nyet". Orang tua gue udah beracap kali bilang kayak gitu ke gue. Sampe bosen. Tapi emang hal itu harus gue resapkan dalam hati, kalu memang gue mau bertahan dan maju di dunia yang kapitalis ini.
Sekian. Semoga bermanfaat buat kalian.
Sabtu, 21 Desember 2013
Berlayar ke Tepian
CERPEN
“Kita cerai!”, Ayah membentak. Talak
tiga sudah.Ya, itu adalah peristiwa enam tahun lalu ketika aku masih duduk di
bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) kelas tiga. Aku adalahanak broken home yang masih terlalu muda
untuk menjadi tulang punggung keluarga.
Kesulitan
ekonomi mulai melanda keluarga kami setelah satu tahun si kutu kupret itu
meninggalkan Ibu. Aku memutuskan untuk berhenti sekolah dan membantu Ibu
mencari uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan untuk menyekolahkan
adikku. Ada perasaan menyesal memang, ketika aku tidak bisa seperti
teman-temanku yang melanjutkan sekolah ke jenjang berikutnya. Tetapi Ibuku
hanyalah seorang pekerja serabutan yang gajinya pas-pasan dan tubuhnya yang
mulai ringkih membuatku tak tega melihatnya. Maklum usianya sudah menginjak
setengah abad.
Aku
benci Ayah. Mengapa Ia lebih memilih wanita jalang itu daripada Ibu yang lemah
lembut dan cantik menawan bagiku. Semenjak persidangan, Ibu tidak pernah
terlihat menitikkan air mata setetes pun. Mungkin Ibu hanya menangis di dalam
toilet di bawah pancuran air shower. Sehingga
air matanya mengalir bersama dengan tetesan air shower tanpa terlihat sedikit pun. Ibu memang wanita yang tegar.
Adikku
Halmer adalah satu-satunya harapan keluarga. Halmer sekarang berumur 16 tahun. Syukurlah
aku dan Ibu masih sanggup membiayai sekolahnya sampai Sekolah Menengah Atas
(SMA). Sempat aku berpikir bahwa hidupnya pasti akan lebih mujur daripada
kakaknya.
Aku dan
Ibu bekerja mati-matian untuk menafkahi keluarga. Mulai dari pembantu rumah
tangga, tukang bangunan, tukang parkir, bahkan buruh pasarpun pernah aku jalani.
Sedangkan Ibu hanya bekerjadi rumahsambil membuka jasa menyetrika baju karena
memang aku yang memintanya begitu. Berkali-kali aku bergonta-ganti pekerjaan. Bukan
karena kualitas kerjaku yang buruk lalu dipecat atasan, tetapi karena aku
berusaha mencari penghasilan yang lebih besar sebisa mungkin demi adikku. Beberapa
kali aku mulai putus asa dan menyerah karena letih dipundakku tak
bosan-bosannya bertengger. Jalan hidup yang kulalui terasa berat dan abstrak. Sulit
dilalui oleh aku yang masih berusia 20 tahun tanpa ijazah SMA berkeliaran di
jalan untuk mencari secercah harapan hidup.
Sampai
pada suatu hari keterpurukan menerjang keluarga kami. Ibu sakit dan harus
istirahat yang cukup. Kini hanya aku yang benar-benar harus menantang hidup.
Menaikkan topi dan… “Prit! Prit!!!”, peluit kutiup sembari mengatur keluar
masuknya kendaraan di sebuah pusat perbelanjaan. Aku harus menegakkan tulang
belakangku dan kembali tegap memandang ke depan.
* * *
Aku
sempat melalui hidupku dengan menggelandang di jalanan. Sedang apa? Ya, aku
menggoyang-goyangkan kicrikan sambil menengadahkan satu tanganku sembari
menyambangi kendaraan satu dan kendaraan lainnya. Aku mengamen saat tengah hari
bolong. Keringat bercucuran dan asap kendaraan pun menerjang mukaku
bertubi-tubi. Seharian aku menghabiskan waktu di sekitaran lampu Alat Pemberi
Isyarat Lalu Lintas (APILL) dan beberapa kali mengistirahatkan tubuhku di bawah
pohon ditemani semilir angin yang menenangkan.
Tak
terasa hari sudah mulai sore, aku berjalan pulang ke rumah untuk menyetor uang
pada Ibu. Di jalan aku melihat segerombolan anak geng sedang tertawa
terkekeh-kekeh, sepertinya mereka sedang melakukan sesuatu yang cukup privasi. Satu
orang pergi meninggalkan gerombolan itu dengan membawa sesuatu yang dibungkus
rapat. Aku terus berjalan tanpa melengoh ke arah mereka sedikit pun. Aku diam
saja melewati mereka. Tetapi langkahku terhenti setelah sebuah tepukan mendarat
di pundakku. Aku menoleh.
“Ini
untukmu”, katanya.
“Apa ini?”,
aku menanggapi mereka dengan perasaan bingung mengapa aku meladeni orang yang
tidak kukenal ini.
“Kelihatannya
kamu sedang lelah, mungkin kamu perlu ini. Coba rasakan ini, kamu akan merasa
bebas dari semua masalah yang mengikatmu”
Aku
menerimanya dan berlari pulang.
Sesampainya
di rumah aku langsung menyetor uang kepada Ibu dan masuk kamar. Aku mengunci
diri dalam kamar. Aku menggerayangi saku celana dan mengambil benda yang diberikan
lelaki tadi. Bentuknya pil. Tanpa perlu pikir panjang, aku pun langsung
meminumnya satu buah karena penasaran.
Keesokan
harinya aku kembali mengamen di tempat biasa. Setengah hari sudah aku
mondar-mandir di antara mobil dan sepeda motor. Seperti biasa aku selalu
disinisi oleh para pengendara yang berhenti di sekitar lampu APILL itu. Terik
mulai menggelitik kulitku. Aku menuju pohon yang rindang untuk beristirahat. Tiba-tiba
seseorang yang kemarin memberiku obat datang menghampiriku dan menawarkanku
untuk menjual obat itu. Aku setuju karena aku akan diberinya uang. Aku mulai
menjual obat itu dengan mengiming-imingi orang lain bahwa obat itu manjur untuk
menjaga spirit tetap optimal. Padahal aku sendiri kurang paham obat apakah itu.
Aku mulai menipu, membual, dan mengumbar 1001 kebohongan di mana-mana.
Suatu
saat aku sadar dari keterlenaanku akan uang yang aku peroleh. Aku baru
mengetahui bahwa obat itu adalah narkoba ketika salah seorang pelangganku
menuduhku menjual obat yang telah membuat Ia kecanduan. Tetapi aku tidak tahu
sama sekali!. Tampilan obat itu begitu meyakinkan di balik kedok busuknya.
Perasaanku
bergejolak, aku gelisah dengan kebodohan yang selama ini aku perbuat. Ibu dan
adik bahkan tidak tahu bahwa aku melakukan pekerjaan kotor yang selama ini aku
perbuat. Untung saja aku hanya meminumnya satu hanya sekedar untuk mencicipi,
pikirku. Aku heran mengapa aku tidak kecanduan. Mungkin obat itu hasil oplosan
dengan obat lain yang sering dijual di pasaran. Atau orang itu telah
membodohiku?, aku bergumam.
Perasaanku
seolah amburadul dikoyak arus sungai yang deras. Tidak dapat dipungkiri bahwa
aku telah menjadi seorang bandar. Ya, bandar narkoba.
* * *
Siang hari ketika aku berjalan di
sepanjang trotoar, aku melihat beberapa polisi berlari ke arahku.
“Angkat tangan!”, seru salah seorang
polisi.
Aku tersontak mengangkat tangan,
terpaku, dan melotot ketakutan. Aku tahu orang-orang di sekitarku pasti terkejut.
Aku ditangkap. Salah seorang pembeli obatku mungkin telah melaporkanku ke
polisi. Tanganku diborgol. Aku diangkut mobil polisi. Aku hanya menunduk malu
dan teringat Ibu dan adik yang ku tinggalkan. Mungkin mereka sedang cemas dan
ketar-ketir menungguku di rumah.
“Sudah
berapa lama Anda menjadi pengedar narkoba?”, tanya polisi itu.
“Dua bulan, Pak.” Aku mencoba
berusaha jujur untuk mempertanggungjawabkan segala kesalahanku.
“Narkoba bentuk apa yang Anda jual?”
“Pil”, jawabku lirih.
Aku dihujani berbagai macam
pertanyaan menyelidik. Berkat kejujuranku, kini aku masuk jeruji besi dan tinggal
bersama tawanan lain. Aku divonis 2,5 tahun penjara. Aku marah pada diriku
sendiri dan orang lain. Geram. Mengapa hal ini terjadi padaku? Mengapa aku mau
menerima tawaran anggota geng itu? Mengapa mereka tega
menjebakku? Cobaan ini begitu berat dan pedih.
Beberapa hari kemudian Ibu dan adik
menjengukku di rumah tahanan. Mereka menyaksikanku tak berdaya sedang memegangi
jeruji besi sambil meratap di antara celah jeruji. Aku melihat Halmer menangis.
Aku tidak tahu apakah itu tangisan kerinduan ataukah yang lain. Tangisan itu
telah menyentuh hati dan membuka mata batinku. Aku pun tergerak untuk berubah.
Mimpi itu memang terlihatnya jauh jika
kita tidak berusaha. Selama di penjara aku banyak menghabiskan waktu di
perpustakaan. Aku membaca sekitar 15 buku dalam sehari. Aku melalui hari-hariku
dengan membaca dan membaca. Selain membaca aku juga menulis dan mencoba untuk
menyusun buku.
* * *
Aku
telah membaca sekitar 90% dari 3.000 buku yang ada di perpustakaan dan berhasil
menyelesaikan tujuh buku. Setelah 2,5 tahun berlalu, akhirnya aku bebas dan
bisa bernapas lega.
Ibu dan
adikku pasti sedang menungguku di rumah. Setibanya di rumah, aku menghampiri
Ibu dan bersujud di bawah kakinya untuk meminta maaf. Senang mengetahui bahwa
Halmer telah menyelesaikan sekolahnya.
Keesokan
harinya, aku mendatangi penerbit untuk menawarkan bukuku. Sayang aku ditolak.
Aku mencari penerbit lain dengan tujuan yang sama, namun aku ditolak lagi karena
latar belakangku yang hanya seorang tamatan SMP dan mantan narapidana.
Sampai
suatu ketika aku bertemu dengan seorang penerbit yang tertarik dengan bukuku
dan bukuku pun berhasil diterbitkan. Aku bersyukur.
Lalu aku
pergi ke suatu sungai terdekat untuk merilekskan pikiran. Aku memejamkan mata
dan berkata dalam hati, “Walaupun gelap dan dalam, walaupun arusnya deras,
walau tak berjalan baik, dan walau terkadang tenggelam, tetapi kini aku telah
menemukan tepian dan aku telah sampai.”
Aku
bersyukur karena penjara telah menjadi sebuah batu lompatan bagiku untuk menemukan
jalanku. Tuhan telah merencanakan sesuatu yang indah dan tak pernah
kubayangkan. Aku melihat batu di bawah kakiku dan mengambilnya satu. Aku
memegangnya erat dan melemparkannya jauh-jauh. Lalu aku merentangkan tangan dan
berteriak, ”Batu yang telah kulemparkan akan mengabulkan impian!” Bahkan suara
jatuhnya pun tak terdengar.
Aku
teringat ketika aku masih SMP, aku selalu mendapatkan nilai yang baik di kelas
sastra. Sekarang aku dapat membuktikan bahwa seorang tamatan SMP dan mantan
narapidana pun bisa menggapai impiannya. Asal Ia mempunyai tekad yang besar dan
mau berusaha.
Akhirnya
dari omzet penjualan bukuku, aku bisa mengangkat derajat keluargaku untuk
menebus masa lalu yang kelam. Aku juga mendirikan sebuah yayasan sosial untuk
menampung anak-anak jalanan, mantan napi, dan anak yatim. Berkat yayasan itu aku
pun banyak mendapatkan penghargaan. Aku juga telah mengejar paket B untuk
mendapatkan ijazah SMA. Sekarang aku telah diangkat sebagai Ketua Granat
(Gerakan Nasional Anti Narkoba) dan aku Nathan Jayden tak akan pernah berhenti
untuk menulis. Ini untuk Ibu dan Halmer.
TAMAT
Langganan:
Postingan (Atom)
Another Post You May Interest
Your Hardliner
going to a grocery market wanna buy you a bouquet of bliss to celebrate us for not any order then the servant just tell me an anec...
What's Popular?
-
Karya : Elisabet Olimphia Selsyi Senja merangkak menuju malam Hitam nan kelam Roman muka yang bertalu-talu menghujam ...
-
Gundah ini memuncak kian tak beradab Seperti pita seluloid yang rusak Memoriku terlalu bandel; beraninya memutar terus momen itu Ahh b...
-
Melihat jingga di matamu adalah kekaguman paling romantis dari seorang wanita sepertiku Duduk di pesisir sini sembari melontarkan banyo...
-
Ada seorang perempuan muda yang tak memahami dunia lelaki Ia merasa kehilangan kemampuannya berpuisi karena ia telah dipertemukan denga...
-
Karya: Andi Gunawan Dinihari ialah seni mengingat; satire yang tumbuh di bibir-bibir para pencibir. Sore it...
-
Karya : Elisabet Olimphia Selsyi Pagi itu 31 Desember 2012, terlihat kesibukan dari Keluarga Madison yang sedang me...
