Cari Blog Ini

Sabtu, 21 Desember 2013

Keluarga Madison



Karya : Elisabet Olimphia Selsyi

             Pagi itu 31 Desember 2012, terlihat kesibukan dari Keluarga Madison yang sedang mempersiapkan rumah barunya agar segera dapat ditempati. Keluarga Madison bertransmigrasi dari luar Jawa. Mereka harus pindah karena Bapak Madison dipindahtugaskan ke pulau Jawa. Kini mereka menetap di desa yang bisa dibilang cukup terpencil, jauh dari hiruk pikuk orang berlalu lalang, jauh dari suara bising kendaraan, juga terbebas dari polusi udara. Di rumah barunya mereka akan memulai lembaran-lembaran baru dalam hidup mereka. Dilihat dari rumah serta luas tanah, Keluarga Madison bisa digolongkan dalam penduduk ekonomi atas.
         Keluarga Madison terdiri dari empat orang anggota keluarga. Louis adalah putra pertama dari pasangan Bapak dan Ibu Madison yang menikah sekitar tahun 2002. Louis berumur delapan tahun. Louis adalah anak yang pendiam. Dengan Ibunya sendiri saja Ia jarang berbincang-bincang. Sekilas Ia memang terlihat seperti anak-anak normal pada umumnya. Namun di balik itu semua, Ia memiliki keanehan. Ia tidak suka berlama-lama berada di bawah paparan sinar matahari. Setiap keluar rumah Ia selalu mengenakan jaket, topi, kaus kaki mencapai lutut, juga sepatu catnya.
          Ibu Madison tidak seperti “tante-tante sosialita” yang sering berpesta pora, foya-foya, serta berkumpul dengan teman-teman sederajat atau berpangkat. Ibu Madison tidak pernah terlihat pergi ke mall atau tempat-tempat merawat dan mempercantik diri. Ia juga sama anehnya di mata para tetangganya. Ia tidak pernah keluar rumah untuk sekedar membeli stok bahan makanan atau kebutuhan dapur lainnya di tukang sayur yang sering lewat saat pagi hari. Jika ingin membeli sesuatu Ia pasti meminta tolong pada anaknya, Louis. Ibu Madison hanya keluar di sore hari saat senja mulai menyongsong dan akan kembali beberapa saat setelah suaminya pulang dari kantor. Ibu Madison pergi dengan menggunakan mobil pribadinya yang dulu Ia beli ketika Ia masih menjadi seorang wanita karier. Namun sejak Ia melahirkan Eleanor, Ia memutuskan untuk menjadi seorang Ibu Rumah Tangga. Ia sering pergi ke pantai untuk menenangkan diri.
          Bapak Madison adalah sesosok ayah yang rajin dan disiplin. Dengar-dengar berkat kekreativitasannya Ia menduduki jabatan yang dibilang cukup tersohor dan disegani karyawan lain. Untuk masalah gaji sudah tidak diragukan lagi. Bapak Madison selalu sampai di kantor tepat pada waktunya. Padahal jarak antara rumah dan kantornya terbilang cukup jauh. Ia selalu berpenampilan rapi, bersih, juga menawan dengan postur tubuh yang dapat membuat Ibu-Ibu PKK terpesona dan menggigit jari. Setiap pagi Bapak Madison selalu mengendarai mobil sedannya untuk berangkat bekerja dan akan pulang sekitar jam enam sore.
         Louis memunyai seorang adik perempuan yang bernama Eleanor. Eleanor berumur enam tahun. Eleanor adalah seorang anak yang autis dan selalu dianggap menyusahkan Keluarga Madison. Hampir setiap hari Ia mengamuk tidak karuan dan membuat keadaan di rumah semakin kacau. Mungkin dengan mengamuk Ia berusaha menunjukkan ketidaksukaannya pada sikap Ibu Madison terhadapnya. Beberapa tetangganya kerap kali mendengar Eleanor menangis dan menjerit-jerit kesetanan. Namun jerit tangis itu hanya terdengar ketika Bapak Madison sedang tidak ada di rumah. Hal itu membuat beberapa tetangganya berprasangka buruk bahwa telah terjadi Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) di Keluarga Madison.
           Louis berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki namun kadang mengendarai sepeda. Louis terkenal sebagai anak yang cerdas. Ia sangat menyukai sastra, politik, dan sejarah. Ia adalah anak yang unik. Biarpun umurnya masih belia tetapi pemikirannya sudah seperti pemikiran orang dewasa. Di usianya yang masih delapan tahun, kini Ia sudah duduk di kelas 4 Sekolah Dasar. Ia pernah loncat kelas karena dianggap telah menguasai pelajaran kakak kelasnya. Terbukti di sekolah barunya, Ia dapat dengan cepat menangkap pelajaran. Tampaknya Ia tidak menemukan kesulitan sekecil apapun dalam belajarnya.
            Sejak kecil Louis memang sudah dimasukkan ke suatu Lembaga Bimbingan Belajar untuk mengikuti bermacam-macam les dari hari Senin sampai Sabtu. Di usianya yang masih sangat muda Ia sudah disibukkan dengan berbagai macam aktivitas. Biarpun semua itu baik baginya, tetapi jika terlalu diforsir hal tersebut dapat mengurangi waktunya untuk bermain layaknya anak-anak seusianya. Ia hanya memunyai waktu senggang di hari Minggu. Itupun hanya Ia isi dengan bermain-main di tanah kosong sebelah rumahnya. Tentunya saat hujan turun saja Ia bermain. Disaat teman-teman sebayanya dilarang keluar untuk bermain oleh orang tuanya, Louis malah asyik bermain seorang diri. Ia begitu menyukai hujan. Ia seringkali bersenandung dalam sebuah puisi.
Hujan
Hujan tumbuh dalam ingatanku
Beranak cucu dan meracuni darahku
Hujan menyeduhkanku rindu dalam secangkir kopi
Menggigil di bibirku
Terbenam bersama Eyang Senja
Bernapas dalam sajakku
Bermalam dalam napasku
Bermain-main di kuncup mataku
Begadang dalam lidah doa
Dan terlelap juga dalam senandung angin sapu-sapu
Hujan terkempit di sela ketiak
Atau Ia sedang berputar-putar di pusarmu?
Rupanya si hujan sedang terkurung dalam tahilalatmu
Jatuh di helaian rambutmu yang oleng
Mewabah di jantungku
Menjadi musibah dalam benakmu
Aku percaya hujan akan mengguyur hati Ibu yang amarah
¤¤¤
            Setelah puas bermain hujan, Louis langsung membersihkan dirinya lalu mengerjakan pekerjaan rumah dan beristirahat.
            Louis memunyai alasan tersendiri mengapa Ia lebih memilih disibukkan dengan berbagai macam aktivitas yang selama ini sedikit merenggut kebahagiaan masa kecilnya daripada Ia harus berlama-lama berada di rumah. Louis tidak terlalu menyukai Ibunya. Ibu Madison terlihat menyeramkan di matanya.       Semenjak Louis berumur 6 tahun, Louis merasakan perubahan sikap yang sangat drastis dalam diri Ibunya. Ibu Madison tidak sepeduli dulu pada Louis. Sebenarnya Louis ingin sekali melihat keluarganya kembali seperti sedia kala. Bahkan sempat terlintas di benak Louis andaikan saja Eleanor tidak pernah dilahirkan atau setidaknya tidak terlahir autis seperti itu. Namun biar bagaimanapun juga, Louis menyayangi adik perempuannya, Eleanor.
            Louis merasa bahwa kini Ibu Madison sama sekali tidak memiliki sifat keibuan dan sifat penyayang seperti Ibu-Ibu lain yang selalu mengecup anaknya dalam sepenggal doa. Mungkin hanya satu kebaikan Ibunya yang selama ini Ia rasakan yaitu saat Ibunya menyiapkan bekal sarapan untuknya. Louis selalu beranggapan bahwa Ibu Madison sangat membencinya dan setiap kali Ibunya memarahi adiknya, Eleanor. Ia terlihat layaknya seperti seorang monster yang siap memangsa musuh dalam cakarnya.
cartoon-monster.jpg

            Setiap pulang sekolah Louis selalu membawa kunci sendiri karena Ia tahu bahwa Ibunya sedang tidak ada di rumah. Ia langsung buru-buru menuju dapur untuk mengambil makanan dan minuman di lemari pendingin. Ia segera menuju kamarnya dan mengunci rapat-rapat pintu kamarnya. Ia banyak menghabiskan waktu di kamarnya dan baru akan keluar saat orang tuanya sudah memanggilnya untuk makan malam bersama.
            Saat makan malam berlangsung pun semua anggota keluarga tidak banyak omong dan canda tawa layaknya keluarga yang harmonis. Keadaan begitu hening. Bapak Madison memang terlihat ramah tetapi Ia tidak suka bercanda atau sekedar asal menyeletuk. Ia memang terlalu serius terhadap pekerjaannya sehingga berpengaruh juga dalam sikap di hidup kesehariannya. Namun pernah Bapak Madison membuka percakapan singkat dengan Louis hanya sekedar untuk menanyakan mengenai sekolah barunya atau teman barunya.
            Ibu Madison hanya diam, menunduk, dan fokus pada hidangan makan malamnya. Ia jarang tersenyum. Padahal dulu Ia adalah seorang wanita yang dikenal dengan lesung pipinya yang menggemaskan. Namun kini lesung pipi itu bagaikan hilang ditelan bumi.           
            Heningnya meja makan pecah ketika Eleanor yang duduk di samping Ayah makan dengan lahapnya sembari mengeluarkan bunyi sendok dan piring yang saling beradu dan menimbulkan suara gaduh. Nasi yang berlepotan di sekitar mulut Eleanor juga berserakan di meja makan menjadi pemandangan yang kurang mengenakkan untuk dipandang. Belum lagi ditambah dengan tampangnya yang plonga-plongo seperti orang dungu semakin memantapkan skenarionya sebagai anak autis.
            Louis sudah selesai makan. Ia pamit terlebih dahulu ke kamarnya untuk tidur. Louis berbicara kecil, “Entah bagaimana nanti Ibu akan membujuk Eleanor masuk kamar. Mencubitinya atau bahkan menyeretnya secara paksa”. Itulah alasan mengapa Louis selalu masuk kamar lebih dulu. Ia tidak tega saat melihat adiknya diperlakukan secara kasar oleh Ibunya. Louis juga tidak pernah mengerti alasan mengapa Ayahnya hanya diam saja saat mendengar anak perempuannya berteriak kesakitan. Pernah Louis bertanya pada dirinya sendiri, “Apakah Ayah diancam oleh Ibu atau malah Ayah berada di pihak Ibu?” Itulah pertanyaan yang tidak pernah terjawab olehnya sejak adiknya Eleanor berumur 4 tahun hingga kini Ia berumur 6 tahun.
            Keluarga Madison sering menjadi bahan pergunjingan warga setempat karena tingkah laku mereka yang janggal. Bahkan sempat tersebar kabar bahwa Ibu Madison adalah seorang pecandu obat-obat terlarang yang telah merubah sikapnya menjadi semakin tempramental terhadap kedua anaknya dari hari ke hari. Para warga juga mengira bahwa Keluarga Madison pindah ke desa terpencil tersebut karena mereka sedang menjadi buronan polisi.
            Selama kurang lebih dua bulan lamanya, semua terlihat biasa-biasa saja dan tidak ada protes dari warga secara langsung.
¤¤¤
            Sampai pada suatu ketika terjadilah kejadian yang sangat mencengangkan warga. Pada malam hari salah seorang warga melihat Ibu Madison sedang mengubur sesuatu yang dibungkus kantong plastik hitam berukuran besar. Ibu Madison terlihat terengah-engah saat menimbun kantong plastik itu. Warga tersebut tidak menghampiri Ibu Madison, tetapi Ia langsung melaporkan kejadian itu ke ketua RT.
            Pada keesokan harinya, setelah Bapak Madison dan Louis berangkat ke kantor dan ke sekolah. Para warga berdatangan. Warga berdemo ramai-ramai. Para warga mendobrak paksa pagar rumah Keluarga Madison. Beberapa warga ada yang menggali timbunan itu. Warga mendapati kantong hitam itu berisikan mayat Eleanor. Para warga tercengang melihat tubuh Eleanor yang sudah terbujur kaku. Warga langsung menerobos masuk pintu rumah Keluarga Madison. Di sana terlihat Ibu Madison sedang jongkok ketakutan. Rupanya Ia telah menelepon suaminya untuk segera pulang sebelum para warga menggali timbunan itu. Ibu Madison menangis dan mengaku bahwa suaminyalah yang telah membunuh Eleanor ketika semua anggota keluarga sudah tertidur pulas. Suaminya telah membekap mulut Eleanor dan menekan wajahnya dengan bantal hingga Eleanor berhenti bernapas. Ibu Madison mengatakan bahwa suaminya melakukan hal itu karena Eleanor terus bertingkah dan tidak mau diam. Ia hanya disuruh suaminya untuk menguburkan jasad Eleanor di tanah kosong sebelah rumahnya. Tak lama kemudian Bapak Madison tiba di rumahnya. Ia mendapati banyak warga berkerumun, dua buah mobil polisi terparkir di depan rumahnya, dan police line yang dipasang mengitari tanah yang digali. Bapak Madison langsung dibawa oleh polisi ke kantor polisi. Para warga banyak yang tidak menyangka bahwa sosok Bapak Madison yang selama ini mereka anggap ramah ternyata Ia adalah seorang pembunuh. Jasad Eleanor pun rencananya akan dikebumikan di tempat yang layak esok harinya.
            Saat Louis pulang dari sekolah, Ia kaget dan sedikit takut karena melihat bahwa sore itu Ibunya sedang berada di rumah. Saat Louis hendak menuju kamarnya Ibunya berkata, “Bapakmu dipenjara”. Langkah Louis terhenti dengan mata yang melotot. Namun Louis tanpa membalikkan badan terus berjalan menuju kamarnya karena Ia tahu bahwa Ibunya pasti hanya bercanda.
            “Siang ini kita makan roti saja. Uang Ibu sudah habis untuk membeli peti mati untuk adikmu”, kata Ibu Madison.
            “Ibu ini bicara apa? Apa yang Ibu katakan tadi benar?”, sela Louis.
              “Sudah, makanlah dulu. Bapakmu itu pembunuh! Ia telah membunuh adikmu Eleanor”, jawab Ibu Madison ketus.
                          “Tidak mungkin! Ayah orang yang baik! Justru Ibu yang selama ini kasar pada Eleanor!”, Louis masih membela Ayahnya.
              “Berhentilah mengoceh atau kamu juga akan menyusul adikmu!”, ancam Ibunya
              “Jangan kira aku tidak tahu kalau selama ini Ibu selalu menyekap Eleanor di ruangan seberang kamarku saat Ibu pergi!”, jawab Louis dengan penuh emosi.
              “Sepertinya kamu tahu banyak ya mengenai rahasia Ibu? Kalau begitu jangan salahkan Ibu jika pisau ini menancap di tubuhmu”, kata Ibunya sambil menampakkan kekesalannya.
Namun nasi telah menjadi bubur. Rasa emosi Ibu Madison mampu mengalahkan rasa sayangnya pada Louis. Pisau pun terlanjur tertancap dan tepat mengenai jantung Louis.
   Beberapa saat kemudian, salah seorang tetangga menemukan Louis sudah tergeletak berlumuran darah di tanah kosong di samping rumah Keluarga Madison. Tetangganya tersebut berteriak minta tolong dan segera menghubungi polisi dan Rumah Sakit. Para warga, polisi, juga ambulan segera berdatangan ke lokasi kejadian. Polisi tidak menemukan seorang pun di dalam rumah Keluarga Madison. Beberapa saat kemudian anak buah polisi tersebut mendapat telepon dari Kepala Kantor Polisi setempat dan mendapat kabar bahwa tersangka pembunuhan, yakni Ibu Madison telah menyerahkan diri ke polisi dan telah terbukti bersalah.
Ketika melewati sel tahanan suaminya, Ibu Madison menyerahkan sepucuk surat yang bertuliskan:
“Ibu telah mengirimkan kedua anak kita ke Surga, Pa”.
             

The End

Another Post You May Interest

Your Hardliner

going to a grocery market wanna buy you a bouquet of bliss to celebrate us for not any order then the servant just tell me an anec...

What's Popular?