Karya : Elisabet Olimphia Selsyi
Pagi
itu 31 Desember 2012, terlihat kesibukan dari Keluarga Madison yang sedang
mempersiapkan rumah barunya agar segera dapat ditempati. Keluarga Madison bertransmigrasi
dari luar Jawa. Mereka harus pindah karena Bapak Madison dipindahtugaskan ke
pulau Jawa. Kini mereka menetap di desa yang bisa dibilang cukup terpencil,
jauh dari hiruk pikuk orang berlalu lalang, jauh dari suara bising kendaraan, juga
terbebas dari polusi udara. Di rumah barunya mereka akan memulai lembaran-lembaran
baru dalam hidup mereka. Dilihat dari rumah serta luas tanah, Keluarga Madison bisa
digolongkan dalam penduduk ekonomi atas.
Keluarga
Madison terdiri dari empat orang anggota keluarga. Louis adalah putra pertama
dari pasangan Bapak dan Ibu Madison yang menikah sekitar tahun 2002. Louis
berumur delapan tahun. Louis adalah anak yang pendiam. Dengan Ibunya sendiri saja
Ia jarang berbincang-bincang. Sekilas Ia memang terlihat seperti anak-anak
normal pada umumnya. Namun di balik itu semua, Ia memiliki keanehan. Ia tidak
suka berlama-lama berada di bawah paparan sinar matahari. Setiap keluar rumah
Ia selalu mengenakan jaket, topi, kaus kaki mencapai lutut, juga sepatu catnya.
Ibu
Madison tidak seperti “tante-tante sosialita” yang sering berpesta pora,
foya-foya, serta berkumpul dengan teman-teman sederajat atau berpangkat. Ibu
Madison tidak pernah terlihat pergi ke mall atau tempat-tempat merawat dan
mempercantik diri. Ia juga sama anehnya di mata para tetangganya. Ia tidak
pernah keluar rumah untuk sekedar membeli stok bahan makanan atau kebutuhan
dapur lainnya di tukang sayur yang sering lewat saat pagi hari. Jika ingin
membeli sesuatu Ia pasti meminta tolong pada anaknya, Louis. Ibu Madison hanya
keluar di sore hari saat senja mulai menyongsong dan akan kembali beberapa saat
setelah suaminya pulang dari kantor. Ibu Madison pergi dengan menggunakan mobil
pribadinya yang dulu Ia beli ketika Ia masih menjadi seorang wanita karier.
Namun sejak Ia melahirkan Eleanor, Ia memutuskan untuk menjadi seorang Ibu
Rumah Tangga. Ia sering pergi ke pantai untuk menenangkan diri.
Bapak
Madison adalah sesosok ayah yang rajin dan disiplin. Dengar-dengar berkat
kekreativitasannya Ia menduduki jabatan yang dibilang cukup tersohor dan
disegani karyawan lain. Untuk masalah gaji sudah tidak diragukan lagi. Bapak
Madison selalu sampai di kantor tepat pada waktunya. Padahal jarak antara rumah
dan kantornya terbilang cukup jauh. Ia selalu berpenampilan rapi, bersih, juga
menawan dengan postur tubuh yang dapat membuat Ibu-Ibu PKK terpesona dan
menggigit jari. Setiap pagi Bapak Madison selalu mengendarai mobil sedannya
untuk berangkat bekerja dan akan pulang sekitar jam enam sore.
Louis
memunyai seorang adik perempuan yang bernama Eleanor. Eleanor berumur enam tahun.
Eleanor adalah seorang anak yang autis dan selalu dianggap menyusahkan Keluarga
Madison. Hampir setiap hari Ia mengamuk tidak karuan dan membuat keadaan di rumah
semakin kacau. Mungkin dengan mengamuk Ia berusaha menunjukkan ketidaksukaannya
pada sikap Ibu Madison terhadapnya. Beberapa tetangganya kerap kali mendengar
Eleanor menangis dan menjerit-jerit kesetanan. Namun jerit tangis itu hanya
terdengar ketika Bapak Madison sedang tidak ada di rumah. Hal itu membuat
beberapa tetangganya berprasangka buruk bahwa telah terjadi Kekerasan Dalam
Rumah Tangga (KDRT) di Keluarga Madison.
Louis
berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki namun kadang mengendarai sepeda. Louis
terkenal sebagai anak yang cerdas. Ia sangat menyukai sastra, politik, dan
sejarah. Ia adalah anak yang unik. Biarpun umurnya masih belia tetapi
pemikirannya sudah seperti pemikiran orang dewasa. Di usianya yang masih
delapan tahun, kini Ia sudah duduk di kelas 4 Sekolah Dasar. Ia pernah loncat
kelas karena dianggap telah menguasai pelajaran kakak kelasnya. Terbukti di
sekolah barunya, Ia dapat dengan cepat menangkap pelajaran. Tampaknya Ia tidak
menemukan kesulitan sekecil apapun dalam belajarnya.
Sejak
kecil Louis memang sudah dimasukkan ke suatu Lembaga Bimbingan Belajar untuk
mengikuti bermacam-macam les dari hari Senin sampai Sabtu. Di usianya yang
masih sangat muda Ia sudah disibukkan dengan berbagai macam aktivitas. Biarpun
semua itu baik baginya, tetapi jika terlalu diforsir hal tersebut dapat mengurangi
waktunya untuk bermain layaknya anak-anak seusianya. Ia hanya memunyai waktu
senggang di hari Minggu. Itupun hanya Ia isi dengan bermain-main di tanah
kosong sebelah rumahnya. Tentunya saat hujan turun saja Ia bermain. Disaat
teman-teman sebayanya dilarang keluar untuk bermain oleh orang tuanya, Louis
malah asyik bermain seorang diri. Ia begitu menyukai hujan. Ia seringkali
bersenandung dalam sebuah puisi.
Hujan
Hujan tumbuh dalam ingatanku
Beranak cucu dan meracuni darahku
Hujan menyeduhkanku rindu dalam secangkir kopi
Menggigil di bibirku
Terbenam bersama Eyang Senja
Bernapas dalam sajakku
Bermalam dalam napasku
Bermain-main di kuncup mataku
Begadang dalam lidah doa
Dan terlelap juga dalam senandung angin
sapu-sapu
Hujan terkempit di sela ketiak
Atau Ia sedang berputar-putar di pusarmu?
Rupanya si hujan sedang terkurung dalam
tahilalatmu
Jatuh di helaian rambutmu yang oleng
Mewabah di jantungku
Menjadi musibah dalam benakmu
Aku percaya hujan akan mengguyur hati Ibu yang
amarah
¤¤¤
Setelah
puas bermain hujan, Louis langsung membersihkan dirinya lalu mengerjakan
pekerjaan rumah dan beristirahat.
Louis
memunyai alasan tersendiri mengapa Ia lebih memilih disibukkan dengan berbagai macam
aktivitas yang selama ini sedikit merenggut kebahagiaan masa kecilnya daripada
Ia harus berlama-lama berada di rumah. Louis tidak terlalu menyukai Ibunya. Ibu
Madison terlihat menyeramkan di matanya. Semenjak
Louis berumur 6 tahun, Louis merasakan perubahan sikap yang sangat drastis dalam
diri Ibunya. Ibu Madison tidak sepeduli dulu pada Louis. Sebenarnya Louis ingin
sekali melihat keluarganya kembali seperti sedia kala. Bahkan sempat terlintas
di benak Louis andaikan saja Eleanor tidak pernah dilahirkan atau setidaknya
tidak terlahir autis seperti itu. Namun biar bagaimanapun juga, Louis
menyayangi adik perempuannya, Eleanor.
Louis
merasa bahwa kini Ibu Madison sama sekali tidak memiliki sifat keibuan dan
sifat penyayang seperti Ibu-Ibu lain yang selalu mengecup anaknya dalam
sepenggal doa. Mungkin hanya satu kebaikan Ibunya yang selama ini Ia rasakan
yaitu saat Ibunya menyiapkan bekal sarapan untuknya. Louis selalu beranggapan
bahwa Ibu Madison sangat membencinya dan setiap kali Ibunya memarahi adiknya,
Eleanor. Ia terlihat layaknya seperti seorang monster yang siap memangsa musuh
dalam cakarnya.

Setiap
pulang sekolah Louis selalu membawa kunci sendiri karena Ia tahu bahwa Ibunya
sedang tidak ada di rumah. Ia langsung buru-buru menuju dapur untuk mengambil
makanan dan minuman di lemari pendingin. Ia segera menuju kamarnya dan mengunci
rapat-rapat pintu kamarnya. Ia banyak menghabiskan waktu di kamarnya dan baru
akan keluar saat orang tuanya sudah memanggilnya untuk makan malam bersama.
Saat
makan malam berlangsung pun semua anggota keluarga tidak banyak omong dan canda
tawa layaknya keluarga yang harmonis. Keadaan begitu hening. Bapak Madison
memang terlihat ramah tetapi Ia tidak suka bercanda atau sekedar asal
menyeletuk. Ia memang terlalu serius terhadap pekerjaannya sehingga berpengaruh
juga dalam sikap di hidup kesehariannya. Namun pernah Bapak Madison membuka
percakapan singkat dengan Louis hanya sekedar untuk menanyakan mengenai sekolah
barunya atau teman barunya.
Ibu
Madison hanya diam, menunduk, dan fokus pada hidangan makan malamnya. Ia jarang
tersenyum. Padahal dulu Ia adalah seorang wanita yang dikenal dengan lesung
pipinya yang menggemaskan. Namun kini lesung pipi itu bagaikan hilang ditelan
bumi.
Heningnya
meja makan pecah ketika Eleanor yang duduk di samping Ayah makan dengan
lahapnya sembari mengeluarkan bunyi sendok dan piring yang saling beradu dan
menimbulkan suara gaduh. Nasi yang berlepotan di sekitar mulut Eleanor juga
berserakan di meja makan menjadi pemandangan yang kurang mengenakkan untuk
dipandang. Belum lagi ditambah dengan tampangnya yang plonga-plongo seperti
orang dungu semakin memantapkan skenarionya sebagai anak autis.
Louis
sudah selesai makan. Ia pamit terlebih dahulu ke kamarnya untuk tidur. Louis
berbicara kecil, “Entah bagaimana nanti Ibu akan membujuk Eleanor masuk kamar.
Mencubitinya atau bahkan menyeretnya secara paksa”. Itulah alasan mengapa Louis
selalu masuk kamar lebih dulu. Ia tidak tega saat melihat adiknya diperlakukan
secara kasar oleh Ibunya. Louis juga tidak pernah mengerti alasan mengapa
Ayahnya hanya diam saja saat mendengar anak perempuannya berteriak kesakitan.
Pernah Louis bertanya pada dirinya sendiri, “Apakah Ayah diancam oleh Ibu atau
malah Ayah berada di pihak Ibu?” Itulah pertanyaan yang tidak pernah terjawab
olehnya sejak adiknya Eleanor berumur 4 tahun hingga kini Ia berumur 6 tahun.
Keluarga
Madison sering menjadi bahan pergunjingan warga setempat karena tingkah laku
mereka yang janggal. Bahkan sempat tersebar kabar bahwa Ibu Madison adalah
seorang pecandu obat-obat terlarang yang telah merubah sikapnya menjadi semakin
tempramental terhadap kedua anaknya dari hari ke hari. Para warga juga mengira
bahwa Keluarga Madison pindah ke desa terpencil tersebut karena mereka sedang
menjadi buronan polisi.
Selama
kurang lebih dua bulan lamanya, semua terlihat biasa-biasa saja dan tidak ada
protes dari warga secara langsung.
¤¤¤
Sampai
pada suatu ketika terjadilah kejadian yang sangat mencengangkan warga. Pada
malam hari salah seorang warga melihat Ibu Madison sedang mengubur sesuatu yang
dibungkus kantong plastik hitam berukuran besar. Ibu Madison terlihat
terengah-engah saat menimbun kantong plastik itu. Warga tersebut tidak
menghampiri Ibu Madison, tetapi Ia langsung melaporkan kejadian itu ke ketua
RT.
Pada
keesokan harinya, setelah Bapak Madison dan Louis berangkat ke kantor dan ke sekolah.
Para warga berdatangan. Warga berdemo ramai-ramai. Para warga mendobrak paksa
pagar rumah Keluarga Madison. Beberapa warga ada yang menggali timbunan itu.
Warga mendapati kantong hitam itu berisikan mayat Eleanor. Para warga
tercengang melihat tubuh Eleanor yang sudah terbujur kaku. Warga langsung
menerobos masuk pintu rumah Keluarga Madison. Di sana terlihat Ibu Madison
sedang jongkok ketakutan. Rupanya Ia telah menelepon suaminya untuk segera
pulang sebelum para warga menggali timbunan itu. Ibu Madison menangis dan
mengaku bahwa suaminyalah yang telah membunuh Eleanor ketika semua anggota
keluarga sudah tertidur pulas. Suaminya telah membekap mulut Eleanor dan
menekan wajahnya dengan bantal hingga Eleanor berhenti bernapas. Ibu Madison
mengatakan bahwa suaminya melakukan hal itu karena Eleanor terus bertingkah dan
tidak mau diam. Ia hanya disuruh suaminya untuk menguburkan jasad Eleanor di
tanah kosong sebelah rumahnya. Tak lama
kemudian Bapak Madison tiba di rumahnya. Ia mendapati banyak warga berkerumun,
dua buah mobil polisi terparkir di depan rumahnya, dan police line yang
dipasang mengitari tanah yang digali. Bapak Madison langsung dibawa oleh polisi
ke kantor polisi. Para warga banyak yang tidak menyangka bahwa sosok Bapak
Madison yang selama ini mereka anggap ramah ternyata Ia adalah seorang
pembunuh. Jasad Eleanor pun rencananya akan dikebumikan di tempat yang layak
esok harinya.
Saat
Louis pulang dari sekolah, Ia kaget dan sedikit takut karena melihat bahwa sore
itu Ibunya sedang berada di rumah. Saat Louis hendak menuju kamarnya Ibunya
berkata, “Bapakmu dipenjara”. Langkah Louis terhenti dengan mata yang melotot. Namun
Louis tanpa membalikkan badan terus berjalan menuju kamarnya karena Ia tahu
bahwa Ibunya pasti hanya bercanda.
“Siang
ini kita makan roti saja. Uang Ibu sudah habis untuk membeli peti mati untuk
adikmu”, kata Ibu Madison.
“Ibu
ini bicara apa? Apa yang Ibu katakan tadi benar?”, sela Louis.
“Sudah, makanlah dulu. Bapakmu itu
pembunuh! Ia telah membunuh adikmu Eleanor”, jawab Ibu Madison ketus.
“Tidak mungkin! Ayah orang
yang baik! Justru Ibu yang selama ini kasar pada Eleanor!”, Louis masih membela
Ayahnya.
“Berhentilah mengoceh atau kamu
juga akan menyusul adikmu!”, ancam Ibunya
“Jangan kira aku tidak tahu kalau selama
ini Ibu selalu menyekap Eleanor di ruangan seberang kamarku saat Ibu pergi!”,
jawab Louis dengan penuh emosi.
“Sepertinya kamu tahu banyak ya
mengenai rahasia Ibu? Kalau begitu jangan salahkan Ibu jika pisau ini menancap
di tubuhmu”, kata Ibunya sambil menampakkan kekesalannya.
Namun nasi telah
menjadi bubur. Rasa emosi Ibu Madison mampu mengalahkan rasa sayangnya pada
Louis. Pisau pun terlanjur tertancap dan tepat mengenai jantung Louis.
Beberapa
saat kemudian, salah seorang tetangga menemukan Louis sudah tergeletak
berlumuran darah di tanah kosong di samping rumah Keluarga Madison. Tetangganya
tersebut berteriak minta tolong dan segera menghubungi polisi dan Rumah Sakit.
Para warga, polisi, juga ambulan segera berdatangan ke lokasi kejadian. Polisi
tidak menemukan seorang pun di dalam rumah Keluarga Madison. Beberapa saat
kemudian anak buah polisi tersebut mendapat telepon dari Kepala Kantor Polisi
setempat dan mendapat kabar bahwa tersangka pembunuhan, yakni Ibu Madison telah
menyerahkan diri ke polisi dan telah terbukti bersalah.
Ketika melewati sel tahanan suaminya, Ibu
Madison menyerahkan sepucuk surat yang bertuliskan:
“Ibu telah mengirimkan kedua anak kita ke
Surga, Pa”.
The End