Jam karet mendetik, menyeret jarumnya
Arloji patah hati dan baterai yang
nyaris mati
Kami tidak punya puisi untuk sahur nanti
Hanya kedelai beragi dan nasi yang hamper
basi
Dan segelas air tuba yang menggondok
Seorang laknat dari jalanan kota
Menahan amarah dalam pingitan
Rakyat jelata sambat sana-sini
Mengaduh kenaikan harga barang
Maunya serba bersubsidi
Bulan Ramadhan bulan yang gemar dandan
Maklum sebentar lagi lebaran
Bulan Ramadhan, bulan yang di
dalamnya diturunkan permulaan
Janganlah engkau minta cinta pada penyair,
Tetapi mintalah pada Allah, sang
pemberi hidup
Terik menarik matahari keubun-ubun
Kami mengisi lambung dengan dahaga sendiri
Menghindari kemewahan duniawi
Peluh mengeluh jatuh ke baju
Menikmati debu jalanan
Hari ini aku pulang kelewat waktu
Lebih petang dari gembala pulang merumput
Bedug digebuk,
Membuka telinga orang bebal
Kepala keluarga memimpin doa
