Cari Blog Ini

Kamis, 27 September 2018

Perihal Kamu

Agaknya menarik juga si jago bual itu
Dia di kejauhan situ
Gayanya memegang puntung rokok nampak begitu maskulin
Bahkan untuk seorang perokok pasif yang benci asap rokok sepertiku mengatakan demikian
Aku terlalu sibuk memuaskan prahara nurani; perihal kamu
Aku haus akan pikatnya
Si pemilik pesona Pangeran Hamlet
Hatiku terlalu dini dan gegabah
Aku mati kutu tertelan sayup-sayup kemilaunya

Ah kamu memang si pemegang kendali
Pada sosokmu aku membelot
Pada perangaimu aku terpantik; dengan karakter yang hanya seorang kamu, ya kamu
Ah bahkan menuliskan-mu pun aku buncah gelagapan
Semua-mu terasa menggugah
Hmm akan ku andaikan dengan siapa lagi ya?
Sosok pangeran idola negeri dongeng mana lagi yang begitu serakahnya ingin ku lekatkan padamu
Kamu: piawai betul membuatku simpatik
Bahkan aku terperanjat mendapatimu se-sastra itu




Sabtu, 22 September 2018

Ketakutan Paling Histeris

Gundah ini memuncak kian tak beradab
Seperti pita seluloid yang rusak
Memoriku terlalu bandel; beraninya memutar terus momen itu
Ahh bahkan mengingatnya terlalu menjengkelkan

Katanya setiap orang pasti punya rasa takut
Sepertinya kini aku mengamini ketakutan terbesarku ini
Perpisahan dan Terlupakan adalah ketakutan paling histeris
Bahkan paling tangis untuk dinegosiasikan pada Tuhan



Kamis, 20 September 2018

Jasa Perantara


Senin lalu aku berkunjung tatap pada sebuah rumah

dindingnya tersusun rapi dari papan kayu

Aku langsung bisa membaca usianya dari ruas-ruas kayu yang tergores

Mataku sedikit tergelitik pada sebuah lubang besarLotengnya ambrol; ku rasa muat untuk persembunyian anak lima tahun

Apakah angin menyapanya sedemikian riang?

Memang udaranya kelampau gigil pagi itu, bulu kudukku saja tak kuasa menahan belaiannya 

 Lubang itu menyuarakan cericit kian lantang  

seolah pasukan tikus di sana belum puas menggelar hajatan semalam suntuk

Aku menaruh curigapada sebuah kuburan baru yang ku lewati beberapa langkah sebelumnya

Taburan mawar sedari tadi mengarak langkahkudan berhenti tepat ketika suara cericit itu memecah lengang

Mungkin Beliau ingin menyampaikan salam perpisahan pada tikus-tikus loteng itumelalui aku

Baiklah Tuan

Sepertinya sang empunya sengaja mewariskan lubang besar itu

Siapa lagi kalau bukan untuk mereka yang berseliweran di gang itu

Kalaupun beliau memilih seorang pengembara seperti aku, dan bukannya warga setempat

Ah kau tahu benar cara menyanjungku Tuan


Sesekali akan ku siulkan salam kehangatan suam-suam kuku


P. S: Jangan tanya apakah ini sejenis puisi. Sebab tak pernah ada yang benar-benar puisi. Sama halnya dengan kamu yang tak pernah benar-benar puas pada satu cara mencinta.

Balada Sakit Hati

     
       Aku selalu takut untuk mencintai sepenuh hati karena pada saat itu pula, aku menyepakati konsekuensi untuk tersakiti. Sakit yang melebihi rasa sakit. Ya, teramat sakit ketika ia pergi meski tak jauh dan meski hanya sambilalu. Maka dari itu ku putuskan, aku sebagai perempuan tegar dengan gaya cuek ini untuk selalu bersikap sok cool. Pokoknya anti sakit hati! Aku begini karena aku tidak pernah berani untuk mencintai sepenuh hati. Aku memang terlalu pecundang dan oleh karenanya aku tidak pernah menikmati setiap hubungan percintaan yang ku jalani. Tetapi kalaupun boleh, aku ingin menyampaikan sedikit pembelaan. Iya donk, aku begini karena hatiku memang belum menemukan orang yang tepat untuk dicintai sepenuh hati; oleh orang dengan hati yang begitu sensitif perihal cinta ini.
     Aku heran pada keteguhan hati tiap kekasih para angkatan, baik udara, laut, maupun darat yang kerap ditinggal kekasihnya bertolak. Pikiranku janggal memikirkan bagaimana bisa mereka membina hubungan bila hanya untuk merasakan perpisahan. Coba kau pikirkan, bagaimana bisa seorang istri bertahan dan berkecukupan dalam hubungan model begitu. Memang sudah kewajiban bagi angkatan untuk menunaikan tugasnya di medan perang dan meninggalkan kekasihnya sebagai akibat yang tak disengaja dari tugasnya. Hidup memang perkara sebab akibat.
    Aku sadar bahwa setiap insan akan selalu merasakan kehilangan, dirundung kesepian dan kemalangan hanya karena tidak bersama dengan orang terdekatnya dalam suatu waktu tertentu dan oleh karena suatu alasan. Dan kita selalu dihadapkan pada pilihan antara meninggalkan atau ditinggalkan. Tetapi, tidakkah wajar apabila kita menyebutnya sebagai kurang ajar pada seorang yang telah membuat kita jatuh hati begitu jatuh, dan dengan santainya pergi dengan alasan bertugas? Sekali lagi, tidakkah? Lalu bagaimana dengan hati orang yang ditinggalkan. Aku meyakini bahwa per satuan kenangan yang terputar kembali dalam otaknya akan memunculkan satu goresan baru di hati yang ditinggalkan itu.
     Ketika dua orang atau lebih terbiasa hidup bersama, maka mereka akan saling tergantung. Begitu pula perasaan seorang kekasih yang ditinggalkan itu, pertemuan menjadi sebuah kebutuhan dan bersentuhan dapat menimbulkan kepuasan jasmani tersendiri. Dan apabila jika mereka berpisah, aku berani bertaruh bahwa mereka tidak akan sejahtera hatinya karena ada hati yang tidak terpuaskan. Tolong, dapatkah para pengembara itu mengerti? Aku bukan tidak ingin mereka sukses di negeri seberang dan mengoleh-olehkan kesuksesan itu untuk kekasihnya nanti. Atas nama perempuan yang ditinggalkan, aku hanya terlalu kaget ‘pabila kebutuhanku dirampas secara tiba-tiba.

Nb  : tidak untuk dinyanyikan.

Filosofi Luka dari Seorang Gadis

Ada banyak luka di tubuhnya
Gadis itu, seorang tegar berkepercayaan aliran Samawi
Selalu membawa doa dalam setiap goresan lukanya
Ia bersyukur karena setiap lukanya diberkati dengan ratap doa
Artinya, suatu kejadian memang digariskan untuk terjadi

Bahwasannya kita perlu menyadari segala apa di sekeliling kita, kengerian duniawi
Ia akan semakin dikuatkan di setiap goresan luka baru di tubuhnya
Gadis itu mengharu biru menyentuh setiap lukanya
Merendam bekas luka itu pada tampungan air matanya
Menyekanya dengan senyum bahagia, sebahagia saat ciuman pertama

Luka memang selalu meninggalkan bekas dan kenangan
"Bekas adalah yang kasat mata sedangkan kenangan hanya ada di sini", begitu katanya
Tentu saja tidak. Tentu jawabannya tidak selugas itu
Kenangan tidak tinggal di kening yang ia cucuk dengan jari telunjuknya
Itu bersenyawa dalam memoria pikiran kita

Gadis itu berpesan, "Sungguh, bekas yang nampak mungkin tidak sengeri dan setangis saat kenangan itu diciptakan."


Perempuan yang Bekerja

Ada seorang perempuan muda yang tak memahami dunia lelaki
Ia merasa kehilangan kemampuannya berpuisi
karena ia telah dipertemukan dengan penyandingnya
Seorang lelaki yang telah menjawab semua gundah dalam bait-bait puisinya di waktu silam

Perempuan itu mendapati
Pergumulan logika dan nurani yang terus berlangsung dalam setiap hubungan yang berbeda
bahwasannya pergumulan itu akan selalu ada
tanpa peduli siapa kekasih yang bersanding 

Ia mulai memahami dunia lelaki
Ia percaya bahwa ketika dirinya telah masuk dalam dunia itu,
ada kesepakatan lain yang dibayar dengan kepastian dan komitmen
Perempuan itu kini telah menyadari status sekaligus keseriusan itu sendiri

"Kita perempuan, harus selalu bekerja, menilai, dan mendamba sosok yang tepat"

Bawa Aku Kepada Sapardi


Bawa aku kepada Sapardi
agar aku bisa berguru dan membuktikan pada kekasih
bahwa aku ingin mencintainya dengan sederhana
Tetapi pula tak sesederhana ratap kayu kepada api yang memusnahkannya
Aku ingin aku-kamu tetap bersama menikmati secangkir puisi dari Sapardi setiap sore

Semesta yang Berteduh Di Matamu


Dari kelopak matamu

Aku melihat semesta yang bernapas
Kehebatan alam liar seakan memergokiku yang kikuk di hadapanmu

Matamu seolah menjadi titik pusat
bagi segala yang hidup dan tinggal

Di belantara sana yang ku selami
aku menemukan air terjun yang berjatuhan ke dasarnya

Di lengkung matamu
air serba berkecukupan membasahi kekeringan hati manusia

Bulu matamu ditumbuhi akar pohon dan ilalang
Hutan lebat yang mengayomi binatang-Nya

Saat senja tiba mataku berkedip seakan bangun dari daya hipnotismu
Burung-burung yang terbang itu sontak membuatku terkesiap

Mereka pergi berlarian menyambut langit yang berkilauan di wajahmu

Hinggap di Pelukan

Aku bukan petualang jauh yang membaku hantam ombak
Tidak seperti gadis kecil yang merangkai kapal dan melipat jala, seperti yang di-ode-kan Banda Neira
Bukan pula anak lelaki yang berpergian ke parade hitam, seperti yang di-ode-kan My Chemical Romance
Aku bukan penjemput paradise, seperti yang di-ode-kan Coldplay
Aku hanyalah perempuan yang sedang dalam pelukan, seperti yang di-ode-kan Payung Teduh
Aku hanyalah perempuan pencumbu hangat di bawah ketiak Bumi, sang kekasih

Ibu Kota yang Kandung

Anak-anaknya di desa berdatangan
menyambangi daerah kumuh sana
katanya pergi untuk menyusu
mereka butuh gizi dari ibunya
ibu mertua di desa tak cakap membesarkannya

Bagaimana mereka tidak bergantung
ibu kota yang kandung selalu dinanti
di kakinya mereka meng-aduh, merintik air mata
segala megah disuguhkannya
tetapi mereka tetap ingin pulang, memadu sua dengan kekasih

Jingga di Matamu


Melihat jingga di matamu adalah kekaguman paling romantis dari seorang wanita sepertiku
Duduk di pesisir sini sembari melontarkan banyolan
agar kau tertawa wahai pujaan

Kemudian aku bisa melihat mata yang berseri dan ranum
Seakan-akan siap untuk menghasilkan butiran-butiran cahaya
Pantulan cahaya jingga itu akhirnya jatuh dan membasuh keringnya hati ini 


Jumat, 27 Juni 2014

Lima Belas Poin dari Si Penulis



 1. Siapa aku yang hanya bisa menulis hingga renta

 2. Mengilhami tangan ini untuk melabuhkan sederet imajinasi
 3. Bicara cinta, hidup, maupun yang empunya hidup 
 4. Siapa aku yang bukan aktivis akapela di kapel sang Maha puisi  
 5. Dari sini. 
 6. Kita dapat menafsirkan kata yang tak sempat tersentuh 
 7. Meluruskan kata yang khilaf 
 8. Menambah  perbendaharaan kata untuk  si ‘tukang perintah’
 9. Yang mungkin terkadang sudah tak berjeroan lagi
10. Tapi diri ini menolak lupa
11. Kelompok sejenis kami ini banyak
12. Aku menyukai tata eksterior yang dapat mengoyak hati
13. Sering disalahkan karena kata yang kerap melebamkan mata
14. Mungkin terlalu cepat, tapi aku ingin berhenti saja di angka lima belas
15. Namun diri ini tak akan pernah berhenti untuk mendendangkan kata-kata

Kamis, 12 Juni 2014

Wajah Kehidupan


Pergi berjalan melipir di sisi hidup ini, licin bagai permainan air di waterboom.
Kita adalah orang yang sering tergelincir masuk dan mendapati ruang gelap yang buntu.
Di sana kita bisa mencium wangi tata kota yang sumpek dengan segala benda  estetis di atasnya.
Mereka lucu.
Tinggal menyempil-nyempil di suatu bidang yang sudah jengah ditinggali.
Persegi. Kenapa ku katakan begitu? Karena memang tiada atap penutup di atasnya.
Bukanlah benda bervolume yang kau tahu selayaknya.
Kita bukan bagian dari mereka. Tapi tidakkan rasa iba mencuat dari benakmu?
Pernahkah pikiranmu menjamah kehidupan mereka?
Kita bisa saja terjerembab masuk lebih dalam dan sulit kembali.
Hidup seperti roda. Terus berputar.
Kita adalah kusir yang harus pandai-pandai dalam menjalani roda kehidupan ini


Rabu, 04 Juni 2014

Wanita Setengah Baya Itu



Wanita setengah baya itu
Punya rambut enggan memutih
Beliau selalu mewanti-wanti
dengan nasihat yang hampir membludak di otakku
Tak ada kejengahan yang muncul ke permukaan

Kaki itu berdiri sendiri tanpa ada bayangan yang menyokong
Hanya ada sebongkah peluh perengus
dan ambisi yang dikejar semangat
Beliaulah tumpuan kami
Tempat dimana aku mengadu

Setiap perli biarlah terhapus sapuan angin, Nak
Beliau membelaku sampai titik darah penghabisan
Beliaulah tonggak penyangga
Karena tangan-tangannya akan menghempas bandit-bandit hingga binasa

Segenggam Tekad Memburu Ambisi

Saya ini marhaenis
Hati saya matematis
Seluruh saya tiada pamrih
Haluan saya tiada cikar
Janganlah ada sangsi terhadap sahaya
Yakinlah akan cinta yang mendarah daging ini
tak pernah susut lebih-lebih terurai
Saya bukan berdarah bali
Terus berjuang tanpa gentar
Sahayalah calon minantu idaman
Kendati sahaya tak punya uang segepok
Meski maskawin tiada bertafsir
Tapi cinta sahaya 'kan berkenan
Tak kan lapuk meski kalender berkali-kali berganti


Sabtu, 29 Maret 2014

Gila

Saya bisa saja jadi seniman
Saya menyeringai, orang heran
Saya manyun, orang kepingkel-pingkel
Punya topeng jago akting

Ya ampun, apa ya mereka heran dengan style saya?
Rambut gimbal menjuntai
Tapi saya bukan anak bajang
Bukan anak reggae
Bukan pula titipan Nyi Ratu atau titisan Mbah Kolodite
Rombeng-rombeng itu asyik kan?
Tuhan saja maha asyik
Saya ini citraan-Nya

Saya duduk di dipan
Memilin rambut sambil cari serangga penghisap darah
Weladalah
Saya malah diusir sama yang punya dipan

Saya itu hidup menggelandang
Anak emperan
Suka cengar-cengir santai
Bingung setengah buntu saudara. Beberapa orang meneriaki saya 'orang gila'


Rabu, 12 Februari 2014

Happiness Comes True!

*asap tebel* *keluar dari sela-sela asap*
Hi pals! Gue lagi seneng banget nih. Mulai darimana ya ceritanya *uhuk*. Mmm, jadi gini...

        Pada tanggal 30 Agustus 2014 kemarin gue dapet sms dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) yang isinya ngasih tahu kalau gue keterima di sana dengan program studi Ilmu Komunikasi. Gak kebayang rasanya men! Kayak terbang bareng flappy bird, kejedug-jedug-pun kayak gak berasa *lebay*. Haha pokoknya gitu deh cuy. Seneng tingkat internasional bisa kali.

        Intinya thanks banget buat SMK gue yang udah jadi batu loncatan buat gue untuk mewujudkan keinginan gue. Ternyata bener apa kata salah satu guru gue yang bilang "Belajar untuk mencintai apa yang tidak kita cintai". Gue mulai merasa kalau kata-kata itu bermanfaat dan nyata di dunia ini. Karena apa? Karena di dunia ini pasti ada yang namanya keinginan kita  tertunda lah atau bahkan gak terkabul. Kalau kita selalu pengen keinginan kita dikabulkan oleh Tuhan, itu artinya kita egois. Kita gak mikir ke depannya bakal gimana. Gue yakin Tuhan itu lebih segala-galanya dari kita. Dia tahu mana yang baik dan enggak bagi umat-Nya. Dia tahu apa yang harus didahulukan. Tuhan itu ibaratnya kayak skala prioritas kita deh. Me-manage kelakuan dan hasrat kita. Ngapa gue jadi mendadak religius?
       Pada akhirnya gue sadar bahwa gak setiap keinginan kita, orang tua bisa kabulkan. Misalnya lo pengen sekolah di SMA yang bonafit, canggih, dan segala macam fasilitasnya yang we-o-we. Tapi pada kenyataannya, ternyata orang tua lo gak cukup dana buat nyekolahin lo di sekolah itu. Lo bisa apa? Gak mau sekolah gara-gara kegedean gengsi atau terima buat sekolah di sekolahan yang seadanya? Di sini nih awal mulanya. Gue berusaha sabar buat terima kenyataan untuk sekolah di SMK piulihan nyokap gue. Biarpun gue gak suka.
        Tiga tahun gue sekolah di sana. Gue udah cukup sabar dan "nyobo nerimo". Tuhan minta gue buat sabar. Beberapa hari yang lalu kakak gue nyadarin tentang suatu kutipan dari film Jokowi, "Seburuk apapun sekolahmu, asal kamu rajin belajar kamu akan tetap pintar". Hati gue bener-bener terbelalak banget ini men!
         Pada akhirnya gue bisa keterima kuliah di UAJY dengan bantuan beasiswa. Puji Tuhan! Halelujah! Ternyata anak SMK bisa! *Itu mah semboyannya* :D Gak apa-apa deh pengorbanan rasa sabar ini akhirnya Tuhan balas dengan sesuatu yang indah. Sekarang kita harus lebih dewasa buat menyikapi hidup. Gak semua yang kita inginkan, bisa orang tua kita wujudkan. "Dadi wong ojo sak jet sak nyet". Orang tua gue udah beracap kali bilang kayak gitu ke gue. Sampe bosen. Tapi emang hal itu harus gue resapkan dalam hati, kalu memang gue mau bertahan dan maju di dunia yang kapitalis ini.

Sekian. Semoga bermanfaat buat kalian.

Sabtu, 21 Desember 2013

Berlayar ke Tepian



CERPEN   

          
             “Kita cerai!”, Ayah membentak. Talak tiga sudah.Ya, itu adalah peristiwa enam tahun lalu ketika aku masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) kelas tiga. Aku adalahanak broken home yang masih terlalu muda untuk menjadi tulang punggung keluarga.
            Kesulitan ekonomi mulai melanda keluarga kami setelah satu tahun si kutu kupret itu meninggalkan Ibu. Aku memutuskan untuk berhenti sekolah dan membantu Ibu mencari uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan untuk menyekolahkan adikku. Ada perasaan menyesal memang, ketika aku tidak bisa seperti teman-temanku yang melanjutkan sekolah ke jenjang berikutnya. Tetapi Ibuku hanyalah seorang pekerja serabutan yang gajinya pas-pasan dan tubuhnya yang mulai ringkih membuatku tak tega melihatnya. Maklum usianya sudah menginjak setengah abad.
            Aku benci Ayah. Mengapa Ia lebih memilih wanita jalang itu daripada Ibu yang lemah lembut dan cantik menawan bagiku. Semenjak persidangan, Ibu tidak pernah terlihat menitikkan air mata setetes pun. Mungkin Ibu hanya menangis di dalam toilet di bawah pancuran air shower. Sehingga air matanya mengalir bersama dengan tetesan air shower tanpa terlihat sedikit pun. Ibu memang wanita yang tegar.
            Adikku Halmer adalah satu-satunya harapan keluarga. Halmer sekarang berumur 16 tahun. Syukurlah aku dan Ibu masih sanggup membiayai sekolahnya sampai Sekolah Menengah Atas (SMA). Sempat aku berpikir bahwa hidupnya pasti akan lebih mujur daripada kakaknya.
            Aku dan Ibu bekerja mati-matian untuk menafkahi keluarga. Mulai dari pembantu rumah tangga, tukang bangunan, tukang parkir, bahkan buruh pasarpun pernah aku jalani. Sedangkan Ibu hanya bekerjadi rumahsambil membuka jasa menyetrika baju karena memang aku yang memintanya begitu. Berkali-kali aku bergonta-ganti pekerjaan. Bukan karena kualitas kerjaku yang buruk lalu dipecat atasan, tetapi karena aku berusaha mencari penghasilan yang lebih besar sebisa mungkin demi adikku. Beberapa kali aku mulai putus asa dan menyerah karena letih dipundakku tak bosan-bosannya bertengger. Jalan hidup yang kulalui terasa berat dan abstrak. Sulit dilalui oleh aku yang masih berusia 20 tahun tanpa ijazah SMA berkeliaran di jalan untuk mencari secercah harapan hidup.
            Sampai pada suatu hari keterpurukan menerjang keluarga kami. Ibu sakit dan harus istirahat yang cukup. Kini hanya aku yang benar-benar harus menantang hidup. Menaikkan topi dan… “Prit! Prit!!!”, peluit kutiup sembari mengatur keluar masuknya kendaraan di sebuah pusat perbelanjaan. Aku harus menegakkan tulang belakangku dan kembali tegap memandang ke depan.

* * *

Aku sempat melalui hidupku dengan menggelandang di jalanan. Sedang apa? Ya, aku menggoyang-goyangkan kicrikan sambil menengadahkan satu tanganku sembari menyambangi kendaraan satu dan kendaraan lainnya. Aku mengamen saat tengah hari bolong. Keringat bercucuran dan asap kendaraan pun menerjang mukaku bertubi-tubi. Seharian aku menghabiskan waktu di sekitaran lampu Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas (APILL) dan beberapa kali mengistirahatkan tubuhku di bawah pohon ditemani semilir angin yang menenangkan.
Tak terasa hari sudah mulai sore, aku berjalan pulang ke rumah untuk menyetor uang pada Ibu. Di jalan aku melihat segerombolan anak geng sedang tertawa terkekeh-kekeh, sepertinya mereka sedang melakukan sesuatu yang cukup privasi. Satu orang pergi meninggalkan gerombolan itu dengan membawa sesuatu yang dibungkus rapat. Aku terus berjalan tanpa melengoh ke arah mereka sedikit pun. Aku diam saja melewati mereka. Tetapi langkahku terhenti setelah sebuah tepukan mendarat di pundakku. Aku menoleh.
“Ini untukmu”, katanya.
“Apa ini?”, aku menanggapi mereka dengan perasaan bingung mengapa aku meladeni orang yang tidak kukenal ini.
“Kelihatannya kamu sedang lelah, mungkin kamu perlu ini. Coba rasakan ini, kamu akan merasa bebas dari semua masalah yang mengikatmu”
Aku menerimanya dan berlari pulang.
Sesampainya di rumah aku langsung menyetor uang kepada Ibu dan masuk kamar. Aku mengunci diri dalam kamar. Aku menggerayangi saku celana dan mengambil benda yang diberikan lelaki tadi. Bentuknya pil. Tanpa perlu pikir panjang, aku pun langsung meminumnya satu buah karena penasaran.
Keesokan harinya aku kembali mengamen di tempat biasa. Setengah hari sudah aku mondar-mandir di antara mobil dan sepeda motor. Seperti biasa aku selalu disinisi oleh para pengendara yang berhenti di sekitar lampu APILL itu. Terik mulai menggelitik kulitku. Aku menuju pohon yang rindang untuk beristirahat. Tiba-tiba seseorang yang kemarin memberiku obat datang menghampiriku dan menawarkanku untuk menjual obat itu. Aku setuju karena aku akan diberinya uang. Aku mulai menjual obat itu dengan mengiming-imingi orang lain bahwa obat itu manjur untuk menjaga spirit tetap optimal. Padahal aku sendiri kurang paham obat apakah itu. Aku mulai menipu, membual, dan mengumbar 1001 kebohongan di mana-mana.
Suatu saat aku sadar dari keterlenaanku akan uang yang aku peroleh. Aku baru mengetahui bahwa obat itu adalah narkoba ketika salah seorang pelangganku menuduhku menjual obat yang telah membuat Ia kecanduan. Tetapi aku tidak tahu sama sekali!. Tampilan obat itu begitu meyakinkan di balik kedok busuknya.
Perasaanku bergejolak, aku gelisah dengan kebodohan yang selama ini aku perbuat. Ibu dan adik bahkan tidak tahu bahwa aku melakukan pekerjaan kotor yang selama ini aku perbuat. Untung saja aku hanya meminumnya satu hanya sekedar untuk mencicipi, pikirku. Aku heran mengapa aku tidak kecanduan. Mungkin obat itu hasil oplosan dengan obat lain yang sering dijual di pasaran. Atau orang itu telah membodohiku?, aku bergumam.
Perasaanku seolah amburadul dikoyak arus sungai yang deras. Tidak dapat dipungkiri bahwa aku telah menjadi seorang bandar. Ya, bandar narkoba.

* * *

Siang hari ketika aku berjalan di sepanjang trotoar, aku melihat beberapa polisi berlari ke arahku.
“Angkat tangan!”, seru salah seorang polisi.
Aku tersontak mengangkat tangan, terpaku, dan melotot ketakutan. Aku tahu orang-orang di sekitarku pasti terkejut. Aku ditangkap. Salah seorang pembeli obatku mungkin telah melaporkanku ke polisi. Tanganku diborgol. Aku diangkut mobil polisi. Aku hanya menunduk malu dan teringat Ibu dan adik yang ku tinggalkan. Mungkin mereka sedang cemas dan ketar-ketir menungguku di rumah.
            “Sudah berapa lama Anda menjadi pengedar narkoba?”,  tanya polisi itu.
“Dua bulan, Pak.” Aku mencoba berusaha jujur untuk mempertanggungjawabkan segala kesalahanku.
“Narkoba bentuk apa yang Anda jual?”
“Pil”,  jawabku lirih.
Aku dihujani berbagai macam pertanyaan menyelidik. Berkat kejujuranku, kini aku masuk jeruji besi dan tinggal bersama tawanan lain. Aku divonis 2,5 tahun penjara. Aku marah pada diriku sendiri dan orang lain. Geram. Mengapa hal ini terjadi padaku? Mengapa aku mau menerima tawaran anggota geng itu? Mengapa mereka tega menjebakku? Cobaan ini begitu berat dan pedih.
Beberapa hari kemudian Ibu dan adik menjengukku di rumah tahanan. Mereka menyaksikanku tak berdaya sedang memegangi jeruji besi sambil meratap di antara celah jeruji. Aku melihat Halmer menangis. Aku tidak tahu apakah itu tangisan kerinduan ataukah yang lain. Tangisan itu telah menyentuh hati dan membuka mata batinku. Aku pun tergerak untuk berubah.
Mimpi itu memang terlihatnya jauh jika kita tidak berusaha. Selama di penjara aku banyak menghabiskan waktu di perpustakaan. Aku membaca sekitar 15 buku dalam sehari. Aku melalui hari-hariku dengan membaca dan membaca. Selain membaca aku juga menulis dan mencoba untuk menyusun buku.

* * *

            Aku telah membaca sekitar 90% dari 3.000 buku yang ada di perpustakaan dan berhasil menyelesaikan tujuh buku. Setelah 2,5 tahun berlalu, akhirnya aku bebas dan bisa bernapas lega.
            Ibu dan adikku pasti sedang menungguku di rumah. Setibanya di rumah, aku menghampiri Ibu dan bersujud di bawah kakinya untuk meminta maaf. Senang mengetahui bahwa Halmer telah menyelesaikan sekolahnya.
            Keesokan harinya, aku mendatangi penerbit untuk menawarkan bukuku. Sayang aku ditolak. Aku mencari penerbit lain dengan tujuan yang sama, namun aku ditolak lagi karena latar belakangku yang hanya seorang tamatan SMP dan mantan narapidana.
            Sampai suatu ketika aku bertemu dengan seorang penerbit yang tertarik dengan bukuku dan bukuku pun berhasil diterbitkan. Aku bersyukur.
            Lalu aku pergi ke suatu sungai terdekat untuk merilekskan pikiran. Aku memejamkan mata dan berkata dalam hati, “Walaupun gelap dan dalam, walaupun arusnya deras, walau tak berjalan baik, dan walau terkadang tenggelam, tetapi kini aku telah menemukan tepian dan aku telah sampai.”
            Aku bersyukur karena penjara telah menjadi sebuah batu lompatan bagiku untuk menemukan jalanku. Tuhan telah merencanakan sesuatu yang indah dan tak pernah kubayangkan. Aku melihat batu di bawah kakiku dan mengambilnya satu. Aku memegangnya erat dan melemparkannya jauh-jauh. Lalu aku merentangkan tangan dan berteriak, ”Batu yang telah kulemparkan akan mengabulkan impian!” Bahkan suara jatuhnya pun tak terdengar.
            Aku teringat ketika aku masih SMP, aku selalu mendapatkan nilai yang baik di kelas sastra. Sekarang aku dapat membuktikan bahwa seorang tamatan SMP dan mantan narapidana pun bisa menggapai impiannya. Asal Ia mempunyai tekad yang besar dan mau berusaha.
            Akhirnya dari omzet penjualan bukuku, aku bisa mengangkat derajat keluargaku untuk menebus masa lalu yang kelam. Aku juga mendirikan sebuah yayasan sosial untuk menampung anak-anak jalanan, mantan napi, dan anak yatim. Berkat yayasan itu aku pun banyak mendapatkan penghargaan. Aku juga telah mengejar paket B untuk mendapatkan ijazah SMA. Sekarang aku telah diangkat sebagai Ketua Granat (Gerakan Nasional Anti Narkoba) dan aku Nathan Jayden tak akan pernah berhenti untuk menulis. Ini untuk Ibu dan Halmer.




TAMAT
 

Another Post You May Interest

Your Hardliner

going to a grocery market wanna buy you a bouquet of bliss to celebrate us for not any order then the servant just tell me an anec...

What's Popular?